Kamis, 02 Januari 2014

Cerpen : Lilin yang tersurat


Bidadari cantik itu pun kembali bangkit dari kecerdasannya, murid pandai ini memang sangat idealis di mata teman-temannya, kecuali Denis, Delia hanya terlihat istimewa di telinga Denis, tak salah, pemuda ini memang tidak bisa melihat seperti normalnya dengan kedua matanya, melainkan hanya bisa meraba dengan kedua tangannya dan mendengarkan dengan kedua telinganya, alias tunanetra, namun dia mempunyai sahabat setia yang bernama Risky. Setiap hari Denis berniat mengirimkan surat kepada Delia, karena tidak bisa menulis normal ia bermaksud menyuruh Risky untuk menuliskan surat-surat tersebut.
Pada suatu hari Delia pun berusaha untuk mencari tau siapa pengirim surat itu yang membuat hatinya serasa tak tenang, ia menemukan buku catatan yang tulisannya sama persis tulisan di surat dengan nama sampul Risky fauzi, jelas bahwa pengirim surat itu adalah Risky. Di setiap malam Delia selalu merenungkan apakah Risky menyukainya, namun ia mencoba menerka, ia tak ingin Risky tau bahwa ia sudah mengira, namun seperti biasa, Delia selalu di sambut dengan surat-surat yang tak jelas pengirimnya, ia hanya tersenyum melihat dan membaca surat itu tak seperti biasa, hingga akhirnya Delia membalas surat itu karena sudah jelas pengirimnya, ia yakin itu dari Risky. Penasaran yang ingin di obati, dengan sengaja Delia mengajaknya bertemu di Danau, hari itu Delia sendiri menunggu kedatangan Risky, namun bukan Risky yang di inginkan melainkan Denis, ia masih bingung dengan semua ini, “Denis, kamu kenapa ada di sini? Kamu sama siapa?” tanya Delia pada Denis, “I..iya .. aku kesini sama Risky, tapi Risky ada di sana tu..” menunjuk ke arah yang berbeda, “mana?apa kamu di sini di ajak Risky untuk menemui seseorang?”, “justru aku yang mengajaknya menemui seseorang, pasti kamu bingung ya.? Sejujurnya aku yang mengirim surat itu, namun aku tak bisa menulis normal, hingga aku menyuruh Risky untuk menuliskannya, aku takut jika aku memakai bahasaku kau tak akan mau menerima surat itu dan langsung membenciku” Ralat Denis dengan bahasa haru sambil meneteskan air matanya, “kamu masih bisa sembuh, tapi aku tidak akan pernah bisa” hanya kata-kata itu yang terjawab dari Delia lalu meninggalkan Denis dengan nada sedikit kecewa.
Sudah 2 bulan setelah pertemuan itu Delia tidak pernah memunculkan batang hidungnya di sekolah, karena sangat khawatir Denis pun menyuruh Risky untuk pergi ke rumah Delia, ia bukan bertemu dengan Delia namun dengan wanita paruh baya, sepertinya Ibunya, “maaf bu, Delia-nya ada?”, “kamu siapa?”, pemuda itu menjawab “sa..saya Risky, pacarnya Delia,,,” dengan nada gugup namun tak tau kenapa Risky melontarkan kata-kata itu.



 
 “apa Delia tidak pernah bercerita denganmu? Delia sakit, leoukimia, stadium lanjut, sudah lama, sejak lahirnya tidak normal dan tidak bisa menangis. Namun dia ingin sekali hal ini di rahasiakan, dia hanya tidak ingin semua orang merasakan apa yang dia rasa”. Air mata keduanya pun menetes bersamaan.
 Risky yang tak sengaja melihat foto di sebelah meja yang di dengkunya pun tak kuasa lebih menahan eluhnya, foto adik lelakinya yang berumur 4 tahun dengan Delia yang penuh dengan canda, tak menyangka bahwa akan begini jadinya, bersamaan dengan air mata yang terus mengalir, adiknya Delia, Fiaz itu pun menyodorkan sehelai kertas berwarna biru muda kepada Risky  “akak yang belnama akak lisky?”, “he-emm...”, “dari mbak delia”. Di bukanya pelan kertas itu oleh Risky;
Mungkin dulu kamu bisa melihat dan mendengar keceriaanku, mungkin dulu kamu bisa melihat dan mendengar cantikku, mungkin dulu kamu bisa melihat dan mendengar kesempurnaanku,,,namun sekarang bahkan sebelah matamu saja mungkin tak kuasa untuk melihatku.
Semakin terasa lengkap air matanya. Risky langsung pergi ke rumah sakit Delia di opname, namun di tempat ICU tak seorangpun boleh masuk kecuali Dokter, hingga hanya bisa melihat di batasi dengan kaca. Dengan perasaan kacau entah pikirannya ataukah bersama Delia yang terbujur kaku tak berdaya.
Esoknya pun Risky sengaja membacakan surat dari Delia di depan Denis, Denis yang tak bisa melihatpun yang serasa Dunianya gelap dan hanya hitam yang di anggap terang kini dia menangis parau. Sepulang sekolah ia berambisi mengoperasikan matanya dengan uang tabungannya sejak pertama mengenal Delia untuk melihat Bidadari cantik Delia, 1 minggu kemudian, jelas tampak di sampingnya ada pemuda tampan sekali, warna-warni dunianya pun muncul tiba-tiba, seperti di lahirkan kembali di dunia yang nyata, “Ya Alloh terimakasih Ya Alloh, apakah engkau sahabatku Risky?”, pemuda itu hanya menganggukkan kepala dengan senyum tipis, mengapa aku baru bisa melihat sahabatku sekarang, dulu aku kira Risky tak kalah buruknya denganku, buktinya dia mau berteman dengan orang buta sepertiku, namun apa aku tak salah menyuruhnya mengirim surat kepada Delia, jika Delia jatuh hati padanya itu sudah hal yang wajar, walau aku harus berusaha mengenal kembali cinta yang lain. Selang beberapa hari Denis ingin sekali melihat Bidadari cantiknya, hinga akhirnya Risky mengajaknya ke sebuah Rumah di Kaki bukit dekat Danau, Rumah penuh mawar merah yang di selimuti dengan kesunyian terlihat seorang gadis cantik yang tak berambut sama sekali bersama lelaki kecil, tak lain adalah Delia dengan Fiaz, adiknya.


 
 “itu Delia, orang yang selama ini kamu dambakan” kata Risky, “itu Delia orang yang aku impikan?, Tuhan, dulu saat dia masih tegar dan hebat engkau tak mengizinkanku untuk melihatnya” menghempaskan nafas sebentar dan melanjutkannya kembali “aku yakin dia bukan orang yang lemah, dia cantik, aku tak salah memilihnya, tapi mengapa baru sekarang engkau mengizinkanku untuk melihatnya?”, sesaat itu juga Denis berlutut serasa tak berdaya berdiri dari tangisannya yang pecah di saat itu pula, mengingat kata-kata terakhir Delia di saat pertemuannya di Danau, hingga melihat Delia yang tak kuasa lagi bergerak, kadang normal, kadang lumpuh, darah yang bercucuran dari hidungnya, dan raut wajah yang putih pucat, tak tega melihat Delia yang selalu di Kemotrapi, namun dia masih bisa tersenyum.
Beberapa minggu kemudian hasil kemo Delia di nyatakan bersih dari kanker, serasa Dunia Delia berawal kembali, pada saat itu pula Denis sadar bahwa dia fikir Delia tidak pernah mencintainya, akhirnya Denis merelakan Delia untuk Risky, keduanya pun menjalin kasih. Namun 2 tahun kemudian, karena tak tau bahwa bersihnya kanker itu hanya sementara, kankernya pun tumbuh lagi.
Risky berusaha selalu ada untuk Delia, namun Delia berkata lain, entah kenapa Delia yang kiranya sangat mencintai Risky kini ia berkata “aku akan menikah dengan orang lain yang aku pilih Ris,,”, tangisan Risky pada saat itu pecah seketika, seperti hatinya tercekik erat. Risky tak kuasa berkata apapun selain diam, Delia lalu pergi meninggalkan Risky. setelah pertemuan kehancuran itu Delia bahkan sama sekali tak ada kabar, padahal Risky berharap bahwa kata-kata Delia itu hanya lelucon, namun sepertinya Risky harus benar-benar melepaskan harapan itu. 1 bulan kemudian, Fiaz adik Delia ingin mengajak Risky ke Danau tempat biasanya, Fiaz memberikan Risky surat untuk yang kedua kalinya;
Dear : kerinduanku Risky
Maafkan aku yang terpaksa bilang seperti itu karena aku tak ingin kamu mencintaiku, aku ingin kamu membenciku biar kamu meninggalkanku. Hal ini sudah lama aku umpatkan darimu, aku tak kuasa melihat tangisanmu untuk merelakan aku pergi dari genggamanmu, aku sangat merasakan damai jika berada di sisihmu, namun aku harus memilih 2 hal, melihatmu menangis untuk membenciku atau melihatmu menangis untuk melihatku yang terakhir. Aku tak ingin mengotori matamu, menggoreskan air mata di pipimu hanya untuk wanita lemah sepertiku. Aku hanya ingin menjadi Lilin yang rela dirinya habis terbakar hanya untuk menerangi orang lain, hingga sekarang keinginanku terwujud, aku sudah lelah Ris,, aku lelah,, aku ingin semua ini berakhir, biarkan aku istirahat. Namun sekarang aku mohon maafkan aku, aku tak bisa melakukan apa-apa lagi untuk menebus kesalahanku yang telah menyayat hatimu. Terimakasih atas ketulusanmu.

salam : merindumu Delia
Namun sayangnya semua itu percuma, tangisan itu percuma karena sebelum surat itu dikasih 3 hari yang lalu Delia menghembuskan nafas terakhirnya. Itu artinya kemaren itu terakhir aku bertemu dengannya? Kenapa harus dengan kesan air mata? Seharusnya aku tak menangis di saat terakhirnya, seharusnya aku tersenyum saat dia bilang ingin menikah, agar itu menjadi senyum terakhirnya. Fikir Risky
Fiaz mengambil 2 balon, 1 di sodorkan untuk Risky, 1 di genggamnya, di tali masing-masing balon itu di tuliskan;
Sedang apa kak Delia di sana? Kakak baik-baik saja bukan? Maafin fiaz kak.. fiaz ndak bisa melindungi kakak dari nyamuk-nyamuk nakal lagi, sekarang kakak tidur sendiri ya? Sebenarnya kemarin fiaz ingin ikut kakak, tapi mama melarang, kak,, kalau ada yang nakal bilangin ke fiaz ya? Nanti fiaz jewer, Fiaz merindukan kakak bersama kak Risky. Kakak kapan pulang?
Sepertinya Fiaz belum mengerti, begitu sangat eratnya hubungan antara Delia dan Fiaz, “akak lisky balonnya akak mau tulis apa buat akak Delia?”. Risky kiranya hanya tersenyum mencoba menyembunyikan semuanya dari Fiaz. Risky mencoba menyusun kata-kata.
Jika kamu berada di sini ...pasti kamu akan merasakan syurga bersama aku dan Fiaz, aku juga minta maaf karena aku belum terlalu memahami kamu, aku harap kamu bisa tenang dan lebih bahagia di sana, tiada doa yang aku lontarkan selain engkau bisa bahagia abadi di balik awan sana, Bidadari yang aku kenal kini menjadi Bidadari yang nyata. Aku sangat merindukanmu. LOVE YOU BIDADARI KECILKU..


Di lambungkannya balon itu tinggi-tinggi, namun sebelum balon itu di lepas Fiaz berkata “akak Lisky angan angis, anti akak Delia ceddih lu, ucap dyu ya kak ail matanya”. Risky pun berusaha mengusap air matanya demi Delia kekasihnya dan sejenak menatap ke langit tanda sangat merindukan kekasihnya, ia berharap sebuah keajaiban datang padanya, contohnya bahwa itu hanya mimpi atau kalau memang itu benar-benar nyata Delia di bangunkan lagi dari keistirahatannya, namun sepertinya itu tak akan mungkin terjadi, itu hanya cerita dongeng anak kecil yang sampai sekarang tak dapat di nyatakan kebenarannya. Mungkin sekarang yang ia bisa lakukan hanya diam, menangis, entah dengan siapa lagi ia harus mengisi hatinya yang kosong, namun bukan seperti kilat yang cepat. Memang sulit mengubah arah cinta, ia hanya bisa melepaskan Delia dengan ikhlas.

Cerpen : MY LORA


Di lereng bukit payudan, sumenep madura, kenal saja dengan pondok pesantren iftitahil ‘ilmi. Sebuah babak baru yang akan di tuju oleh Lora kita, alias putra serayang kiai sofi dan hjh aisyah, Zidan yang biasa di sapa dengan julukan Lora oleh santri-santri yang ada di iftitahil ‘ilmi ini bersifat sangat tertutup kepada siapapun, namun dengan tampang yang sangat mendukung, ia mampu menjebak beratus-ratus santri putri, Zidan terkenal bersifat dingin plus anti cewek ini juga bisa fallin in love loooo..., namun sebenarnya jika di fikir dan di ingat hal ini tidak mungkin di percaya oleh santri-santri yang lain, jika kali ini sang Lora sedang tertambat virus merah jambu, yang namanya manusia sekeras apapun hati pasti akan luluh juga. Zidan mengumpatkan perasaan ini baru saja (alias jatuh hati pada pandangan pertama), namun sepertinya Zidan masih malu untuk mengungkapkannya, setiap ia mengingat gadis itu, ia selalu bertanya-tanya memang aku ini bukan seorang lelaki yang jantan? Hingga aku tak berani mengeluarkan isi hatiku padanya, bukankah jika perasaan seorang wanita  tak sama dengan perasaan lelaki itu sudah hal yang wajar bagi seorang lelaki? Lalu mengapa aku takut? Sebenarnya aku hanya berfikir pasti dia akan marah jika mengetahui hal  ini, bertemu saja baru kemarin, aku tak ingin dia merasa kehormatannya aku jatuhkan. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus membicarakannya nanti?. Ya lathif, engkau yang maha mebolak-balik hati, bantulah hambamu yang tengah terjebak pada urusan asmara ini.Do’a Zidan langsung di dengar Tuhan, dan di turunkannya keajaiban, tak lama kemudian Zahra seorang gadis yang berhasil membuat Lora itu kagumpun  di utus hjh aisyah untuk menanamkan setangkai bunga mawar di depan kamar Zidan, ia sejenak menatap ke arah pintu kamar yang tertutup rapat, tertinggal sebuah alihan mata 1 detik saja , tiba-tiba pintu itu mulai menganga, ia panik, bingung harus bagaimana, jantungnya seakan meledak di saat itu pula, sepertinya ia juga merasakan hal yang sama. Dari balik pintu terpancar wajah yang bercahaya, “Assalamu’alaikum” sapa zidan, “Wa’alaikumsalam” sahut Zahra. Meraka seakan tak kuasa berada di suasana seperti ini, ember yang di pegang zahrapun jatuh seketika yang menjadikan suasana gempar kecil, lalu di pungutnya kembali ember itu “sepertinya kemarin kita pernah bertemu di halaman masjid kan? Kalau tidak keberatan, bolehkah aku mengetahui namamu?”kata Zidan dengan sedikit keberanian, “Salsabilla Azzahra, panggil saja dengan Zahra” Zahra sengaja tidak menanyakan namanya, karena Santri mana coba yang gak kenal si doi, “nama yang indah”sanjung Zidan,  “punten Ra,,saya pamit mau ke ndalem dulu” Ralat Zahra tegang, “sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan padamu” sahut Zidan, “ingin bicara tentang apa Ra?” tanya Zahra, “sejak pertama kali aku melihatmu, aku telah merasakannya.. sebuah virus merah jambu yang membuatku tak bisa mengistirahatkan fikiranku untuk mengingatmu, aku... jatuh hati padamu” mata Zidan tak berkedip, Zahra hanya diam, dan mengeluarkan jurus senyuman lesung pipinya yang merah merona, “jadi bagaimana, apa sampean mau jadi kekasihku?”, Zahra hanya mengangguk dengan senyuman  yang lebih manis lagi.
Ia sengaja tak menceritakan hal ini kepada siapapun, karena kekasihnya adalah seorang Lora yang di idamkan para santri putri di sini, terutama ia tak mau di bilang munak, namun Zahra ini masih mempunyai 1 sahabat dekat, panggil saja dengan Zahwa,, hehe namanya mirip bukan? Itulah yang membuat mereka bershabat. Next, Zidan bermaksud mengirimkan surat untuk Zahra, namun karena di titipkan oleh seorang Bindara putra dan karena yang di kenal para Bindara adalah Zahwa, yang bertugas sebagai pengurus keamanan, maka terjadilah perselisihan, surat itu di berikan kepada Zahwa, saat surat sudah berada di tangan Zahwa, Zahwa masih saja tercengang bingung dari siapa ini? , di bukanya perlahan surat biru itu, tertera beribu kata-kata kalbu indah dan puisi-puisinya yang menghipnotis mata, di bacanya semakin ke bawah, bertulis nama terang, your lora, Zidan, pipi yang semula larut dalam tegang kini terkembang. Di tempat lain, di waktu yang sama, “Zahra...” teriak Zahwa, “aku... sepertinya aku mulai jatuh cinta” mendekati Zahra dan berbisik, “Subhanalloh, dengan siapa wa?, pasti beliau sangat istimewa hingga membuatmu tertambat padanya” lirih Zahra mengatakan, “maafkan aku Ra, aku tak bisa bercerita denganmu, bukan karena aku tidak mempercayaimu”, lesung pipi keduanyapun terkembang sangat manis,  Mungkin Zahra sudah mengerti perkataan Zahwa.
Hari-hari berikutnya juga sama, surat yang terus menerus berdatangan karena fikir Zidan surat itu sampai pada tujuannya. Pernah terselip di benah Zahra, kenapa Zidan tak pernah ada kabar, namun Tuhan berkata lain, seperti biasa surat dari Zidan lewat Bindara itupun kembali hadir, di surat yang ini berisi bahwa Zidan ingin mengajaknya bertemu setelah kegiatan Diniyah. Segera kegiatan Diniyahpun berlangsung, Zahra hanya menengak-nengok sana-sini karena sahabatnya yang bertugas keamanan, ia tak melihat Zidan yang berpeci item nasional, berbaju koko, dan bersarung. Hingga kegiatan Diniyahpun usai, “Ra, sampean duluan saja, aku masih ada pengarahan”, kebohongan terjadi antara 2 sahabat yang mempunyai perasaan yang sama terhadap 1 orang yang sama, Zahra mulai menyusuri jalan satu-satunya antara halaman hingga sampai ke Blok al-marwah. Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda ada Zidan yang sedang menunggu kekasihnya, dari balik taman terlihat gadis berhijab biru muda yang membalut wajah manisnya sedang berjalan ke arahnya, namun bukan Zahra melainkan Zahwa, “kenapa kamu ada di sini?” tanya Zidan pada Zahwa, “bukankah ini hari yang kita nantikan, saat kau merasakan virus merah jambumu?”, “maksudmu? Dari mana tau semua tentangku?”, “dari semua surat-suratnya sampean untukku, dari Bindara putra disini” sambil menyodorkan 1 helai surat darinya, “Astaghfirlloh, punten ada yang ingin aku jelaskan padamu, mungkin ini semua kesalahan, namun aku benar-benar tak ada maksud buruk untuk menjatuhkanmu, surat itu ku tujukan untuk santri lain”, dengan perasaan kecewa dan malu Zahwa langsung mengalihkan pandangannya, ”lalu santri itu siapa?”, “Zahra”. Ia semakin tak kuasa berdiri lebih lama, dan langsung pergi tanpa salam hanya ada bekas cucuran air mata di tempatnya berdiri dari pijakan kakinya.
Seperti biasa Zahra tak pernah bisa tidur tanpa ada sahabatnya yang menemani tidurnya, ia tetap menunggu Zahwa. Hingga saat yang di nantikan Zahwa masuk kamar tanpa 1 katapun yang terucap dari bibir merahnya, sepertinya ada hal yang berbeda, namun Zahra fikir Zahwa hanya kelelahan dan ingin istirahat.
Keesokan harinya setelah sholat shubuh Zahra berusaha mendamaikan hati sahabatnya itu, “Zahwa, sampean kok pucet? Masih lelah ya Wa?” ralat Zahra, “Ra, aku tak menginginkan hal ini, aku tak menyangka akan jadi begini, aku malu Ra, aku malu,,” isak Zahwa sambil memberikan kotak kecil misterius, ia bingung, di bukanya kotak itu pelan, ternyata kotak itu berisi setumpuk surat-surat yang membuatnya semakin pusing, satu helai surat di ambilnya pada tumpukan paling atas, tiba-tiba air mata itu pun jatuh seketika membasahi pipinya, tanpa bosa-basi ia langsung memungut semua surat-surat itu tanpa dibaluti dengan kotak yang semula tetap di tinggalkannya di dalam masjid. Tergopoh-gopoh ia bertekat menemui Zidan, “Zahra, sampean kenapa? Ada apa?” hentak Zidan, “Assalamu’alaikum Ra, aku memang sangat merindukanmu kemarin, tak ada kabar manis darimu, tapi bukan berarti kau menyakiti sahabatku, aku tak ingin bercerita tentang ta’aruf kita terhadap siapapun, bahkan sahabatku sendiri, karena aku sangat menjaga kehormatanmu sebagai Lora di sini”, entah kenapa, baru kali ini Zahra semarah itu, sambil menyodorkan semua surat yang beserakan dari genggaman tangannya ke tangan Zidan, ia melanjutkan lagi kata-katanya, “aku tak mau persahabatanku terlepas karenamu, aku inginkan 1 permintaan, lupakan aku, karena dia sudah jatuh hati kepadamu Ra, kamu tak akan mungkin tega melihatku tanpa sahabat, bukankah ini adalah permintaan pertama dan sekaligus terakhirku?”, “Zahra, bidadariku, aku tak ingin kita benar-benar lepas, aku bahkan sudah berniat untuk bilang sama abah dan umi untuk mengkhitbahmu, lalu aku harus bagaimana lagi Ra? Apa itu artinya kamu sudah tidak mencintaiku? Kalau memang itu keputusanmu, maka baiklah”. Keduaya pun saling meninggalkan namun tetap dengan salam.

Hari demi hari terus berlalu, sejak kejadian itu, Zidan masih mengharapkan Zahra yang berubah fikiran, mencabut kembali ucapannya dan berpihak untuk memilihnya. Berbeda dengan Zahra yang juga sangat merindukan Zidan, namun ia harus tetap diam demi sahabatnya, sejak pertemuan terakhirnya dengan Zidan, ia sering diam, walau keadaan Zahwa yang sudah mulai mengakrab. Tiba-tiba Zahwa datang di tengah renungan Zahra “Ra, jika memang ini luka bagimu, maka cabutlah luka itu segera”, menghela nafas dan melanjutkannya lagi “aku tak apa Ra, aku tak ingin engkau terus begini, aku yakin beliau juga mempunyai rasa yang sama denganmu, aku tak mungkin memilih keegokanku sendiri di banding dengan sahabat terbaik sepertimu Ra”, lagi-lagi Zahra hanya diam, berusaha menghibur hatinya sendiri dengan senyuman, mencoba tegar di atas keterpurukan. Setelah perbincangan itu terjadi, tak lama kemudian meraka merasa ada pijakan kaki di depan kamar mereka, keduanyapun mencoba menututi hentakan kaki di luar kamarnya, di bukanya pelan pintu itu, sreekkk,,,,, keduanya di kejutkan oleh makhluk yang tak asing lagi di pondok ini, “Ra, aku ingin bicara denganmu, aku minta waktumu sebentar saja, tidak di sini” lagi-lagi Zidan yang masih belum bisa melupakan kekasihnya, ia sangat berani bukan??hehe. di tempat yang berbeda, “aku tak kuat menahan ini semua, aku yakin engkau juga sama,  biarkan abah dan umi mengkhitbahmu untukku Ra, kamu mau kan?”,”aku sangat merindukanmu” hanya itu dan di lanjutkannya hanya dengan anggukan haru. 1 bulan kemudian ijab qobul pun berlangsung, Zidan dan Zahra sangat serasi, Zidan mengenakan jas putih dan bukan peci item nasional lagi, namun peci putih yang menggebyar. Zahra mengenakan abaya putih dan berijab putih, pipinya yang merah di balut dengan senyuman bahagia. Di lain sisi ada Zahwa yang berdiri di deretan tamu paling depan dan tiba-tiba ada panggilan yang sangat istimewa buatnya dari salah seorang lelaki,”sayang, sampean di sini? Kenapa melihat ke arah mereka terus? Hemm berdoa saja agar kita bisa sampai seperti mereka”. sepertinya bukan santri putra di sini, benar saja, ini adalah Adzam, kakak dari Zahra. Zahwa yang duduk di samping Adzam, dan Zahra yang duduk di samping Zidan, semuanya bahagia, dua sahabat ini sangat bersyukur atas keadilan Tuhan, apapun itu pasti adalah jalan yang terbaik untuk hambanya.