Di lereng bukit payudan, sumenep
madura, kenal saja dengan pondok pesantren iftitahil ‘ilmi. Sebuah babak baru
yang akan di tuju oleh Lora kita, alias putra serayang kiai sofi dan hjh aisyah,
Zidan yang biasa di sapa dengan julukan Lora oleh santri-santri yang ada di
iftitahil ‘ilmi ini bersifat sangat tertutup kepada siapapun, namun dengan tampang
yang sangat mendukung, ia mampu menjebak beratus-ratus santri putri, Zidan
terkenal bersifat dingin plus anti cewek ini juga bisa fallin in love loooo...,
namun sebenarnya jika di fikir dan di ingat hal ini tidak mungkin di percaya
oleh santri-santri yang lain, jika kali ini sang Lora sedang tertambat virus
merah jambu, yang namanya manusia sekeras apapun hati pasti akan luluh juga. Zidan
mengumpatkan perasaan ini baru saja (alias jatuh hati pada pandangan pertama),
namun sepertinya Zidan masih malu untuk mengungkapkannya, setiap ia mengingat
gadis itu, ia selalu bertanya-tanya memang
aku ini bukan seorang lelaki yang jantan? Hingga aku tak berani mengeluarkan
isi hatiku padanya, bukankah jika perasaan seorang wanita tak sama dengan perasaan lelaki itu sudah hal
yang wajar bagi seorang lelaki? Lalu mengapa aku takut? Sebenarnya aku hanya
berfikir pasti dia akan marah jika mengetahui hal ini, bertemu saja baru kemarin, aku tak ingin
dia merasa kehormatannya aku jatuhkan. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku
harus membicarakannya nanti?. Ya lathif, engkau yang maha mebolak-balik hati,
bantulah hambamu yang tengah terjebak pada urusan asmara ini.Do’a Zidan
langsung di dengar Tuhan, dan di turunkannya keajaiban, tak lama kemudian Zahra
seorang gadis yang berhasil membuat Lora itu kagumpun di utus hjh aisyah untuk menanamkan setangkai
bunga mawar di depan kamar Zidan, ia sejenak menatap ke arah pintu kamar yang
tertutup rapat, tertinggal sebuah alihan mata 1 detik saja , tiba-tiba pintu
itu mulai menganga, ia panik, bingung harus bagaimana, jantungnya seakan
meledak di saat itu pula, sepertinya ia juga merasakan hal yang sama. Dari
balik pintu terpancar wajah yang bercahaya, “Assalamu’alaikum” sapa zidan,
“Wa’alaikumsalam” sahut Zahra. Meraka seakan tak kuasa berada di suasana
seperti ini, ember yang di pegang zahrapun jatuh seketika yang menjadikan
suasana gempar kecil, lalu di pungutnya kembali ember itu “sepertinya kemarin
kita pernah bertemu di halaman masjid kan? Kalau tidak keberatan, bolehkah aku
mengetahui namamu?”kata Zidan dengan sedikit keberanian, “Salsabilla Azzahra,
panggil saja dengan Zahra” Zahra sengaja tidak menanyakan namanya, karena
Santri mana coba yang gak kenal si doi, “nama yang indah”sanjung Zidan, “punten Ra,,saya pamit mau ke ndalem dulu”
Ralat Zahra tegang, “sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan padamu” sahut
Zidan, “ingin bicara tentang apa Ra?” tanya Zahra, “sejak pertama kali aku
melihatmu, aku telah merasakannya.. sebuah virus merah jambu yang membuatku tak
bisa mengistirahatkan fikiranku untuk mengingatmu, aku... jatuh hati padamu”
mata Zidan tak berkedip, Zahra hanya diam, dan mengeluarkan jurus senyuman
lesung pipinya yang merah merona, “jadi bagaimana, apa sampean mau jadi
kekasihku?”, Zahra hanya mengangguk dengan senyuman yang lebih manis lagi.
Ia sengaja tak menceritakan hal
ini kepada siapapun, karena kekasihnya adalah seorang Lora yang di idamkan para
santri putri di sini, terutama ia tak mau di bilang munak, namun Zahra ini
masih mempunyai 1 sahabat dekat, panggil saja dengan Zahwa,, hehe namanya mirip
bukan? Itulah yang membuat mereka bershabat. Next, Zidan bermaksud mengirimkan
surat untuk Zahra, namun karena di titipkan oleh seorang Bindara putra dan
karena yang di kenal para Bindara adalah Zahwa, yang bertugas sebagai pengurus
keamanan, maka terjadilah perselisihan, surat itu di berikan kepada Zahwa, saat
surat sudah berada di tangan Zahwa, Zahwa masih saja tercengang bingung dari siapa ini? , di bukanya perlahan
surat biru itu, tertera beribu kata-kata kalbu indah dan puisi-puisinya yang
menghipnotis mata, di bacanya semakin ke bawah, bertulis nama terang, your lora, Zidan, pipi yang semula larut dalam
tegang kini terkembang. Di tempat lain, di waktu yang sama, “Zahra...” teriak
Zahwa, “aku... sepertinya aku mulai jatuh cinta” mendekati Zahra dan berbisik,
“Subhanalloh, dengan siapa wa?, pasti beliau sangat istimewa hingga membuatmu
tertambat padanya” lirih Zahra mengatakan, “maafkan aku Ra, aku tak bisa
bercerita denganmu, bukan karena aku tidak mempercayaimu”, lesung pipi keduanyapun
terkembang sangat manis, Mungkin Zahra
sudah mengerti perkataan Zahwa.
Hari-hari berikutnya juga sama,
surat yang terus menerus berdatangan karena fikir Zidan surat itu sampai pada
tujuannya. Pernah terselip di benah Zahra, kenapa Zidan tak pernah ada kabar,
namun Tuhan berkata lain, seperti biasa surat dari Zidan lewat Bindara itupun
kembali hadir, di surat yang ini berisi bahwa Zidan ingin mengajaknya bertemu
setelah kegiatan Diniyah. Segera kegiatan Diniyahpun berlangsung, Zahra hanya
menengak-nengok sana-sini karena sahabatnya yang bertugas keamanan, ia tak
melihat Zidan yang berpeci item nasional, berbaju koko, dan bersarung. Hingga
kegiatan Diniyahpun usai, “Ra, sampean duluan saja, aku masih ada pengarahan”,
kebohongan terjadi antara 2 sahabat yang mempunyai perasaan yang sama terhadap
1 orang yang sama, Zahra mulai menyusuri jalan satu-satunya antara halaman
hingga sampai ke Blok al-marwah. Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda ada
Zidan yang sedang menunggu kekasihnya, dari balik taman terlihat gadis berhijab
biru muda yang membalut wajah manisnya sedang berjalan ke arahnya, namun bukan
Zahra melainkan Zahwa, “kenapa kamu ada di sini?” tanya Zidan pada Zahwa,
“bukankah ini hari yang kita nantikan, saat kau merasakan virus merah
jambumu?”, “maksudmu? Dari mana tau semua tentangku?”, “dari semua
surat-suratnya sampean untukku, dari Bindara putra disini” sambil menyodorkan 1
helai surat darinya, “Astaghfirlloh, punten ada yang ingin aku jelaskan padamu,
mungkin ini semua kesalahan, namun aku benar-benar tak ada maksud buruk untuk
menjatuhkanmu, surat itu ku tujukan untuk santri lain”, dengan perasaan kecewa
dan malu Zahwa langsung mengalihkan pandangannya, ”lalu santri itu siapa?”,
“Zahra”. Ia semakin tak kuasa berdiri lebih lama, dan langsung pergi tanpa
salam hanya ada bekas cucuran air mata di tempatnya berdiri dari pijakan
kakinya.
Seperti biasa Zahra tak pernah
bisa tidur tanpa ada sahabatnya yang menemani tidurnya, ia tetap menunggu
Zahwa. Hingga saat yang di nantikan Zahwa masuk kamar tanpa 1 katapun yang
terucap dari bibir merahnya, sepertinya ada hal yang berbeda, namun Zahra fikir
Zahwa hanya kelelahan dan ingin istirahat.
Keesokan harinya setelah sholat
shubuh Zahra berusaha mendamaikan hati sahabatnya itu, “Zahwa, sampean kok
pucet? Masih lelah ya Wa?” ralat Zahra, “Ra, aku tak menginginkan hal ini, aku
tak menyangka akan jadi begini, aku malu Ra, aku malu,,” isak Zahwa sambil
memberikan kotak kecil misterius, ia bingung, di bukanya kotak itu pelan,
ternyata kotak itu berisi setumpuk surat-surat yang membuatnya semakin pusing, satu
helai surat di ambilnya pada tumpukan paling atas, tiba-tiba air mata itu pun
jatuh seketika membasahi pipinya, tanpa bosa-basi ia langsung memungut semua
surat-surat itu tanpa dibaluti dengan kotak yang semula tetap di tinggalkannya
di dalam masjid. Tergopoh-gopoh ia bertekat menemui Zidan, “Zahra, sampean
kenapa? Ada apa?” hentak Zidan, “Assalamu’alaikum Ra, aku memang sangat
merindukanmu kemarin, tak ada kabar manis darimu, tapi bukan berarti kau
menyakiti sahabatku, aku tak ingin bercerita tentang ta’aruf kita terhadap
siapapun, bahkan sahabatku sendiri, karena aku sangat menjaga kehormatanmu
sebagai Lora di sini”, entah kenapa, baru kali ini Zahra semarah itu, sambil menyodorkan
semua surat yang beserakan dari genggaman tangannya ke tangan Zidan, ia
melanjutkan lagi kata-katanya, “aku tak mau persahabatanku terlepas karenamu,
aku inginkan 1 permintaan, lupakan aku, karena dia sudah jatuh hati kepadamu
Ra, kamu tak akan mungkin tega melihatku tanpa sahabat, bukankah ini adalah
permintaan pertama dan sekaligus terakhirku?”, “Zahra, bidadariku, aku tak
ingin kita benar-benar lepas, aku bahkan sudah berniat untuk bilang sama abah dan
umi untuk mengkhitbahmu, lalu aku harus bagaimana lagi Ra? Apa itu artinya kamu
sudah tidak mencintaiku? Kalau memang itu keputusanmu, maka baiklah”. Keduaya
pun saling meninggalkan namun tetap dengan salam.
Hari demi hari terus berlalu,
sejak kejadian itu, Zidan masih mengharapkan Zahra yang berubah fikiran, mencabut
kembali ucapannya dan berpihak untuk memilihnya. Berbeda dengan Zahra yang juga
sangat merindukan Zidan, namun ia harus tetap diam demi sahabatnya, sejak
pertemuan terakhirnya dengan Zidan, ia sering diam, walau keadaan Zahwa yang
sudah mulai mengakrab. Tiba-tiba Zahwa datang di tengah renungan Zahra “Ra,
jika memang ini luka bagimu, maka cabutlah luka itu segera”, menghela nafas dan
melanjutkannya lagi “aku tak apa Ra, aku tak ingin engkau terus begini, aku
yakin beliau juga mempunyai rasa yang sama denganmu, aku tak mungkin memilih
keegokanku sendiri di banding dengan sahabat terbaik sepertimu Ra”, lagi-lagi
Zahra hanya diam, berusaha menghibur hatinya sendiri dengan senyuman, mencoba
tegar di atas keterpurukan. Setelah perbincangan itu terjadi, tak lama kemudian
meraka merasa ada pijakan kaki di depan kamar mereka, keduanyapun mencoba
menututi hentakan kaki di luar kamarnya, di bukanya pelan pintu itu,
sreekkk,,,,, keduanya di kejutkan oleh makhluk yang tak asing lagi di pondok ini,
“Ra, aku ingin bicara denganmu, aku minta waktumu sebentar saja, tidak di sini”
lagi-lagi Zidan yang masih belum bisa melupakan kekasihnya, ia sangat berani
bukan??hehe. di tempat yang berbeda, “aku tak kuat menahan ini semua, aku yakin
engkau juga sama, biarkan abah dan umi
mengkhitbahmu untukku Ra, kamu mau kan?”,”aku sangat merindukanmu” hanya itu
dan di lanjutkannya hanya dengan anggukan haru. 1 bulan kemudian ijab qobul pun
berlangsung, Zidan dan Zahra sangat serasi, Zidan mengenakan jas putih dan
bukan peci item nasional lagi, namun peci putih yang menggebyar. Zahra
mengenakan abaya putih dan berijab putih, pipinya yang merah di balut dengan
senyuman bahagia. Di lain sisi ada Zahwa yang berdiri di deretan tamu paling
depan dan tiba-tiba ada panggilan yang sangat istimewa buatnya dari salah
seorang lelaki,”sayang, sampean di sini? Kenapa melihat ke arah mereka terus?
Hemm berdoa saja agar kita bisa sampai seperti mereka”. sepertinya bukan santri
putra di sini, benar saja, ini adalah Adzam, kakak dari Zahra. Zahwa yang duduk
di samping Adzam, dan Zahra yang duduk di samping Zidan, semuanya bahagia, dua
sahabat ini sangat bersyukur atas keadilan Tuhan, apapun itu pasti adalah jalan
yang terbaik untuk hambanya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar