Kamis, 02 Januari 2014

Cerpen : MY LORA


Di lereng bukit payudan, sumenep madura, kenal saja dengan pondok pesantren iftitahil ‘ilmi. Sebuah babak baru yang akan di tuju oleh Lora kita, alias putra serayang kiai sofi dan hjh aisyah, Zidan yang biasa di sapa dengan julukan Lora oleh santri-santri yang ada di iftitahil ‘ilmi ini bersifat sangat tertutup kepada siapapun, namun dengan tampang yang sangat mendukung, ia mampu menjebak beratus-ratus santri putri, Zidan terkenal bersifat dingin plus anti cewek ini juga bisa fallin in love loooo..., namun sebenarnya jika di fikir dan di ingat hal ini tidak mungkin di percaya oleh santri-santri yang lain, jika kali ini sang Lora sedang tertambat virus merah jambu, yang namanya manusia sekeras apapun hati pasti akan luluh juga. Zidan mengumpatkan perasaan ini baru saja (alias jatuh hati pada pandangan pertama), namun sepertinya Zidan masih malu untuk mengungkapkannya, setiap ia mengingat gadis itu, ia selalu bertanya-tanya memang aku ini bukan seorang lelaki yang jantan? Hingga aku tak berani mengeluarkan isi hatiku padanya, bukankah jika perasaan seorang wanita  tak sama dengan perasaan lelaki itu sudah hal yang wajar bagi seorang lelaki? Lalu mengapa aku takut? Sebenarnya aku hanya berfikir pasti dia akan marah jika mengetahui hal  ini, bertemu saja baru kemarin, aku tak ingin dia merasa kehormatannya aku jatuhkan. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus membicarakannya nanti?. Ya lathif, engkau yang maha mebolak-balik hati, bantulah hambamu yang tengah terjebak pada urusan asmara ini.Do’a Zidan langsung di dengar Tuhan, dan di turunkannya keajaiban, tak lama kemudian Zahra seorang gadis yang berhasil membuat Lora itu kagumpun  di utus hjh aisyah untuk menanamkan setangkai bunga mawar di depan kamar Zidan, ia sejenak menatap ke arah pintu kamar yang tertutup rapat, tertinggal sebuah alihan mata 1 detik saja , tiba-tiba pintu itu mulai menganga, ia panik, bingung harus bagaimana, jantungnya seakan meledak di saat itu pula, sepertinya ia juga merasakan hal yang sama. Dari balik pintu terpancar wajah yang bercahaya, “Assalamu’alaikum” sapa zidan, “Wa’alaikumsalam” sahut Zahra. Meraka seakan tak kuasa berada di suasana seperti ini, ember yang di pegang zahrapun jatuh seketika yang menjadikan suasana gempar kecil, lalu di pungutnya kembali ember itu “sepertinya kemarin kita pernah bertemu di halaman masjid kan? Kalau tidak keberatan, bolehkah aku mengetahui namamu?”kata Zidan dengan sedikit keberanian, “Salsabilla Azzahra, panggil saja dengan Zahra” Zahra sengaja tidak menanyakan namanya, karena Santri mana coba yang gak kenal si doi, “nama yang indah”sanjung Zidan,  “punten Ra,,saya pamit mau ke ndalem dulu” Ralat Zahra tegang, “sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan padamu” sahut Zidan, “ingin bicara tentang apa Ra?” tanya Zahra, “sejak pertama kali aku melihatmu, aku telah merasakannya.. sebuah virus merah jambu yang membuatku tak bisa mengistirahatkan fikiranku untuk mengingatmu, aku... jatuh hati padamu” mata Zidan tak berkedip, Zahra hanya diam, dan mengeluarkan jurus senyuman lesung pipinya yang merah merona, “jadi bagaimana, apa sampean mau jadi kekasihku?”, Zahra hanya mengangguk dengan senyuman  yang lebih manis lagi.
Ia sengaja tak menceritakan hal ini kepada siapapun, karena kekasihnya adalah seorang Lora yang di idamkan para santri putri di sini, terutama ia tak mau di bilang munak, namun Zahra ini masih mempunyai 1 sahabat dekat, panggil saja dengan Zahwa,, hehe namanya mirip bukan? Itulah yang membuat mereka bershabat. Next, Zidan bermaksud mengirimkan surat untuk Zahra, namun karena di titipkan oleh seorang Bindara putra dan karena yang di kenal para Bindara adalah Zahwa, yang bertugas sebagai pengurus keamanan, maka terjadilah perselisihan, surat itu di berikan kepada Zahwa, saat surat sudah berada di tangan Zahwa, Zahwa masih saja tercengang bingung dari siapa ini? , di bukanya perlahan surat biru itu, tertera beribu kata-kata kalbu indah dan puisi-puisinya yang menghipnotis mata, di bacanya semakin ke bawah, bertulis nama terang, your lora, Zidan, pipi yang semula larut dalam tegang kini terkembang. Di tempat lain, di waktu yang sama, “Zahra...” teriak Zahwa, “aku... sepertinya aku mulai jatuh cinta” mendekati Zahra dan berbisik, “Subhanalloh, dengan siapa wa?, pasti beliau sangat istimewa hingga membuatmu tertambat padanya” lirih Zahra mengatakan, “maafkan aku Ra, aku tak bisa bercerita denganmu, bukan karena aku tidak mempercayaimu”, lesung pipi keduanyapun terkembang sangat manis,  Mungkin Zahra sudah mengerti perkataan Zahwa.
Hari-hari berikutnya juga sama, surat yang terus menerus berdatangan karena fikir Zidan surat itu sampai pada tujuannya. Pernah terselip di benah Zahra, kenapa Zidan tak pernah ada kabar, namun Tuhan berkata lain, seperti biasa surat dari Zidan lewat Bindara itupun kembali hadir, di surat yang ini berisi bahwa Zidan ingin mengajaknya bertemu setelah kegiatan Diniyah. Segera kegiatan Diniyahpun berlangsung, Zahra hanya menengak-nengok sana-sini karena sahabatnya yang bertugas keamanan, ia tak melihat Zidan yang berpeci item nasional, berbaju koko, dan bersarung. Hingga kegiatan Diniyahpun usai, “Ra, sampean duluan saja, aku masih ada pengarahan”, kebohongan terjadi antara 2 sahabat yang mempunyai perasaan yang sama terhadap 1 orang yang sama, Zahra mulai menyusuri jalan satu-satunya antara halaman hingga sampai ke Blok al-marwah. Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda ada Zidan yang sedang menunggu kekasihnya, dari balik taman terlihat gadis berhijab biru muda yang membalut wajah manisnya sedang berjalan ke arahnya, namun bukan Zahra melainkan Zahwa, “kenapa kamu ada di sini?” tanya Zidan pada Zahwa, “bukankah ini hari yang kita nantikan, saat kau merasakan virus merah jambumu?”, “maksudmu? Dari mana tau semua tentangku?”, “dari semua surat-suratnya sampean untukku, dari Bindara putra disini” sambil menyodorkan 1 helai surat darinya, “Astaghfirlloh, punten ada yang ingin aku jelaskan padamu, mungkin ini semua kesalahan, namun aku benar-benar tak ada maksud buruk untuk menjatuhkanmu, surat itu ku tujukan untuk santri lain”, dengan perasaan kecewa dan malu Zahwa langsung mengalihkan pandangannya, ”lalu santri itu siapa?”, “Zahra”. Ia semakin tak kuasa berdiri lebih lama, dan langsung pergi tanpa salam hanya ada bekas cucuran air mata di tempatnya berdiri dari pijakan kakinya.
Seperti biasa Zahra tak pernah bisa tidur tanpa ada sahabatnya yang menemani tidurnya, ia tetap menunggu Zahwa. Hingga saat yang di nantikan Zahwa masuk kamar tanpa 1 katapun yang terucap dari bibir merahnya, sepertinya ada hal yang berbeda, namun Zahra fikir Zahwa hanya kelelahan dan ingin istirahat.
Keesokan harinya setelah sholat shubuh Zahra berusaha mendamaikan hati sahabatnya itu, “Zahwa, sampean kok pucet? Masih lelah ya Wa?” ralat Zahra, “Ra, aku tak menginginkan hal ini, aku tak menyangka akan jadi begini, aku malu Ra, aku malu,,” isak Zahwa sambil memberikan kotak kecil misterius, ia bingung, di bukanya kotak itu pelan, ternyata kotak itu berisi setumpuk surat-surat yang membuatnya semakin pusing, satu helai surat di ambilnya pada tumpukan paling atas, tiba-tiba air mata itu pun jatuh seketika membasahi pipinya, tanpa bosa-basi ia langsung memungut semua surat-surat itu tanpa dibaluti dengan kotak yang semula tetap di tinggalkannya di dalam masjid. Tergopoh-gopoh ia bertekat menemui Zidan, “Zahra, sampean kenapa? Ada apa?” hentak Zidan, “Assalamu’alaikum Ra, aku memang sangat merindukanmu kemarin, tak ada kabar manis darimu, tapi bukan berarti kau menyakiti sahabatku, aku tak ingin bercerita tentang ta’aruf kita terhadap siapapun, bahkan sahabatku sendiri, karena aku sangat menjaga kehormatanmu sebagai Lora di sini”, entah kenapa, baru kali ini Zahra semarah itu, sambil menyodorkan semua surat yang beserakan dari genggaman tangannya ke tangan Zidan, ia melanjutkan lagi kata-katanya, “aku tak mau persahabatanku terlepas karenamu, aku inginkan 1 permintaan, lupakan aku, karena dia sudah jatuh hati kepadamu Ra, kamu tak akan mungkin tega melihatku tanpa sahabat, bukankah ini adalah permintaan pertama dan sekaligus terakhirku?”, “Zahra, bidadariku, aku tak ingin kita benar-benar lepas, aku bahkan sudah berniat untuk bilang sama abah dan umi untuk mengkhitbahmu, lalu aku harus bagaimana lagi Ra? Apa itu artinya kamu sudah tidak mencintaiku? Kalau memang itu keputusanmu, maka baiklah”. Keduaya pun saling meninggalkan namun tetap dengan salam.

Hari demi hari terus berlalu, sejak kejadian itu, Zidan masih mengharapkan Zahra yang berubah fikiran, mencabut kembali ucapannya dan berpihak untuk memilihnya. Berbeda dengan Zahra yang juga sangat merindukan Zidan, namun ia harus tetap diam demi sahabatnya, sejak pertemuan terakhirnya dengan Zidan, ia sering diam, walau keadaan Zahwa yang sudah mulai mengakrab. Tiba-tiba Zahwa datang di tengah renungan Zahra “Ra, jika memang ini luka bagimu, maka cabutlah luka itu segera”, menghela nafas dan melanjutkannya lagi “aku tak apa Ra, aku tak ingin engkau terus begini, aku yakin beliau juga mempunyai rasa yang sama denganmu, aku tak mungkin memilih keegokanku sendiri di banding dengan sahabat terbaik sepertimu Ra”, lagi-lagi Zahra hanya diam, berusaha menghibur hatinya sendiri dengan senyuman, mencoba tegar di atas keterpurukan. Setelah perbincangan itu terjadi, tak lama kemudian meraka merasa ada pijakan kaki di depan kamar mereka, keduanyapun mencoba menututi hentakan kaki di luar kamarnya, di bukanya pelan pintu itu, sreekkk,,,,, keduanya di kejutkan oleh makhluk yang tak asing lagi di pondok ini, “Ra, aku ingin bicara denganmu, aku minta waktumu sebentar saja, tidak di sini” lagi-lagi Zidan yang masih belum bisa melupakan kekasihnya, ia sangat berani bukan??hehe. di tempat yang berbeda, “aku tak kuat menahan ini semua, aku yakin engkau juga sama,  biarkan abah dan umi mengkhitbahmu untukku Ra, kamu mau kan?”,”aku sangat merindukanmu” hanya itu dan di lanjutkannya hanya dengan anggukan haru. 1 bulan kemudian ijab qobul pun berlangsung, Zidan dan Zahra sangat serasi, Zidan mengenakan jas putih dan bukan peci item nasional lagi, namun peci putih yang menggebyar. Zahra mengenakan abaya putih dan berijab putih, pipinya yang merah di balut dengan senyuman bahagia. Di lain sisi ada Zahwa yang berdiri di deretan tamu paling depan dan tiba-tiba ada panggilan yang sangat istimewa buatnya dari salah seorang lelaki,”sayang, sampean di sini? Kenapa melihat ke arah mereka terus? Hemm berdoa saja agar kita bisa sampai seperti mereka”. sepertinya bukan santri putra di sini, benar saja, ini adalah Adzam, kakak dari Zahra. Zahwa yang duduk di samping Adzam, dan Zahra yang duduk di samping Zidan, semuanya bahagia, dua sahabat ini sangat bersyukur atas keadilan Tuhan, apapun itu pasti adalah jalan yang terbaik untuk hambanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar