Kamis, 02 Januari 2014

Cerpen : Lilin yang tersurat


Bidadari cantik itu pun kembali bangkit dari kecerdasannya, murid pandai ini memang sangat idealis di mata teman-temannya, kecuali Denis, Delia hanya terlihat istimewa di telinga Denis, tak salah, pemuda ini memang tidak bisa melihat seperti normalnya dengan kedua matanya, melainkan hanya bisa meraba dengan kedua tangannya dan mendengarkan dengan kedua telinganya, alias tunanetra, namun dia mempunyai sahabat setia yang bernama Risky. Setiap hari Denis berniat mengirimkan surat kepada Delia, karena tidak bisa menulis normal ia bermaksud menyuruh Risky untuk menuliskan surat-surat tersebut.
Pada suatu hari Delia pun berusaha untuk mencari tau siapa pengirim surat itu yang membuat hatinya serasa tak tenang, ia menemukan buku catatan yang tulisannya sama persis tulisan di surat dengan nama sampul Risky fauzi, jelas bahwa pengirim surat itu adalah Risky. Di setiap malam Delia selalu merenungkan apakah Risky menyukainya, namun ia mencoba menerka, ia tak ingin Risky tau bahwa ia sudah mengira, namun seperti biasa, Delia selalu di sambut dengan surat-surat yang tak jelas pengirimnya, ia hanya tersenyum melihat dan membaca surat itu tak seperti biasa, hingga akhirnya Delia membalas surat itu karena sudah jelas pengirimnya, ia yakin itu dari Risky. Penasaran yang ingin di obati, dengan sengaja Delia mengajaknya bertemu di Danau, hari itu Delia sendiri menunggu kedatangan Risky, namun bukan Risky yang di inginkan melainkan Denis, ia masih bingung dengan semua ini, “Denis, kamu kenapa ada di sini? Kamu sama siapa?” tanya Delia pada Denis, “I..iya .. aku kesini sama Risky, tapi Risky ada di sana tu..” menunjuk ke arah yang berbeda, “mana?apa kamu di sini di ajak Risky untuk menemui seseorang?”, “justru aku yang mengajaknya menemui seseorang, pasti kamu bingung ya.? Sejujurnya aku yang mengirim surat itu, namun aku tak bisa menulis normal, hingga aku menyuruh Risky untuk menuliskannya, aku takut jika aku memakai bahasaku kau tak akan mau menerima surat itu dan langsung membenciku” Ralat Denis dengan bahasa haru sambil meneteskan air matanya, “kamu masih bisa sembuh, tapi aku tidak akan pernah bisa” hanya kata-kata itu yang terjawab dari Delia lalu meninggalkan Denis dengan nada sedikit kecewa.
Sudah 2 bulan setelah pertemuan itu Delia tidak pernah memunculkan batang hidungnya di sekolah, karena sangat khawatir Denis pun menyuruh Risky untuk pergi ke rumah Delia, ia bukan bertemu dengan Delia namun dengan wanita paruh baya, sepertinya Ibunya, “maaf bu, Delia-nya ada?”, “kamu siapa?”, pemuda itu menjawab “sa..saya Risky, pacarnya Delia,,,” dengan nada gugup namun tak tau kenapa Risky melontarkan kata-kata itu.



 
 “apa Delia tidak pernah bercerita denganmu? Delia sakit, leoukimia, stadium lanjut, sudah lama, sejak lahirnya tidak normal dan tidak bisa menangis. Namun dia ingin sekali hal ini di rahasiakan, dia hanya tidak ingin semua orang merasakan apa yang dia rasa”. Air mata keduanya pun menetes bersamaan.
 Risky yang tak sengaja melihat foto di sebelah meja yang di dengkunya pun tak kuasa lebih menahan eluhnya, foto adik lelakinya yang berumur 4 tahun dengan Delia yang penuh dengan canda, tak menyangka bahwa akan begini jadinya, bersamaan dengan air mata yang terus mengalir, adiknya Delia, Fiaz itu pun menyodorkan sehelai kertas berwarna biru muda kepada Risky  “akak yang belnama akak lisky?”, “he-emm...”, “dari mbak delia”. Di bukanya pelan kertas itu oleh Risky;
Mungkin dulu kamu bisa melihat dan mendengar keceriaanku, mungkin dulu kamu bisa melihat dan mendengar cantikku, mungkin dulu kamu bisa melihat dan mendengar kesempurnaanku,,,namun sekarang bahkan sebelah matamu saja mungkin tak kuasa untuk melihatku.
Semakin terasa lengkap air matanya. Risky langsung pergi ke rumah sakit Delia di opname, namun di tempat ICU tak seorangpun boleh masuk kecuali Dokter, hingga hanya bisa melihat di batasi dengan kaca. Dengan perasaan kacau entah pikirannya ataukah bersama Delia yang terbujur kaku tak berdaya.
Esoknya pun Risky sengaja membacakan surat dari Delia di depan Denis, Denis yang tak bisa melihatpun yang serasa Dunianya gelap dan hanya hitam yang di anggap terang kini dia menangis parau. Sepulang sekolah ia berambisi mengoperasikan matanya dengan uang tabungannya sejak pertama mengenal Delia untuk melihat Bidadari cantik Delia, 1 minggu kemudian, jelas tampak di sampingnya ada pemuda tampan sekali, warna-warni dunianya pun muncul tiba-tiba, seperti di lahirkan kembali di dunia yang nyata, “Ya Alloh terimakasih Ya Alloh, apakah engkau sahabatku Risky?”, pemuda itu hanya menganggukkan kepala dengan senyum tipis, mengapa aku baru bisa melihat sahabatku sekarang, dulu aku kira Risky tak kalah buruknya denganku, buktinya dia mau berteman dengan orang buta sepertiku, namun apa aku tak salah menyuruhnya mengirim surat kepada Delia, jika Delia jatuh hati padanya itu sudah hal yang wajar, walau aku harus berusaha mengenal kembali cinta yang lain. Selang beberapa hari Denis ingin sekali melihat Bidadari cantiknya, hinga akhirnya Risky mengajaknya ke sebuah Rumah di Kaki bukit dekat Danau, Rumah penuh mawar merah yang di selimuti dengan kesunyian terlihat seorang gadis cantik yang tak berambut sama sekali bersama lelaki kecil, tak lain adalah Delia dengan Fiaz, adiknya.


 
 “itu Delia, orang yang selama ini kamu dambakan” kata Risky, “itu Delia orang yang aku impikan?, Tuhan, dulu saat dia masih tegar dan hebat engkau tak mengizinkanku untuk melihatnya” menghempaskan nafas sebentar dan melanjutkannya kembali “aku yakin dia bukan orang yang lemah, dia cantik, aku tak salah memilihnya, tapi mengapa baru sekarang engkau mengizinkanku untuk melihatnya?”, sesaat itu juga Denis berlutut serasa tak berdaya berdiri dari tangisannya yang pecah di saat itu pula, mengingat kata-kata terakhir Delia di saat pertemuannya di Danau, hingga melihat Delia yang tak kuasa lagi bergerak, kadang normal, kadang lumpuh, darah yang bercucuran dari hidungnya, dan raut wajah yang putih pucat, tak tega melihat Delia yang selalu di Kemotrapi, namun dia masih bisa tersenyum.
Beberapa minggu kemudian hasil kemo Delia di nyatakan bersih dari kanker, serasa Dunia Delia berawal kembali, pada saat itu pula Denis sadar bahwa dia fikir Delia tidak pernah mencintainya, akhirnya Denis merelakan Delia untuk Risky, keduanya pun menjalin kasih. Namun 2 tahun kemudian, karena tak tau bahwa bersihnya kanker itu hanya sementara, kankernya pun tumbuh lagi.
Risky berusaha selalu ada untuk Delia, namun Delia berkata lain, entah kenapa Delia yang kiranya sangat mencintai Risky kini ia berkata “aku akan menikah dengan orang lain yang aku pilih Ris,,”, tangisan Risky pada saat itu pecah seketika, seperti hatinya tercekik erat. Risky tak kuasa berkata apapun selain diam, Delia lalu pergi meninggalkan Risky. setelah pertemuan kehancuran itu Delia bahkan sama sekali tak ada kabar, padahal Risky berharap bahwa kata-kata Delia itu hanya lelucon, namun sepertinya Risky harus benar-benar melepaskan harapan itu. 1 bulan kemudian, Fiaz adik Delia ingin mengajak Risky ke Danau tempat biasanya, Fiaz memberikan Risky surat untuk yang kedua kalinya;
Dear : kerinduanku Risky
Maafkan aku yang terpaksa bilang seperti itu karena aku tak ingin kamu mencintaiku, aku ingin kamu membenciku biar kamu meninggalkanku. Hal ini sudah lama aku umpatkan darimu, aku tak kuasa melihat tangisanmu untuk merelakan aku pergi dari genggamanmu, aku sangat merasakan damai jika berada di sisihmu, namun aku harus memilih 2 hal, melihatmu menangis untuk membenciku atau melihatmu menangis untuk melihatku yang terakhir. Aku tak ingin mengotori matamu, menggoreskan air mata di pipimu hanya untuk wanita lemah sepertiku. Aku hanya ingin menjadi Lilin yang rela dirinya habis terbakar hanya untuk menerangi orang lain, hingga sekarang keinginanku terwujud, aku sudah lelah Ris,, aku lelah,, aku ingin semua ini berakhir, biarkan aku istirahat. Namun sekarang aku mohon maafkan aku, aku tak bisa melakukan apa-apa lagi untuk menebus kesalahanku yang telah menyayat hatimu. Terimakasih atas ketulusanmu.

salam : merindumu Delia
Namun sayangnya semua itu percuma, tangisan itu percuma karena sebelum surat itu dikasih 3 hari yang lalu Delia menghembuskan nafas terakhirnya. Itu artinya kemaren itu terakhir aku bertemu dengannya? Kenapa harus dengan kesan air mata? Seharusnya aku tak menangis di saat terakhirnya, seharusnya aku tersenyum saat dia bilang ingin menikah, agar itu menjadi senyum terakhirnya. Fikir Risky
Fiaz mengambil 2 balon, 1 di sodorkan untuk Risky, 1 di genggamnya, di tali masing-masing balon itu di tuliskan;
Sedang apa kak Delia di sana? Kakak baik-baik saja bukan? Maafin fiaz kak.. fiaz ndak bisa melindungi kakak dari nyamuk-nyamuk nakal lagi, sekarang kakak tidur sendiri ya? Sebenarnya kemarin fiaz ingin ikut kakak, tapi mama melarang, kak,, kalau ada yang nakal bilangin ke fiaz ya? Nanti fiaz jewer, Fiaz merindukan kakak bersama kak Risky. Kakak kapan pulang?
Sepertinya Fiaz belum mengerti, begitu sangat eratnya hubungan antara Delia dan Fiaz, “akak lisky balonnya akak mau tulis apa buat akak Delia?”. Risky kiranya hanya tersenyum mencoba menyembunyikan semuanya dari Fiaz. Risky mencoba menyusun kata-kata.
Jika kamu berada di sini ...pasti kamu akan merasakan syurga bersama aku dan Fiaz, aku juga minta maaf karena aku belum terlalu memahami kamu, aku harap kamu bisa tenang dan lebih bahagia di sana, tiada doa yang aku lontarkan selain engkau bisa bahagia abadi di balik awan sana, Bidadari yang aku kenal kini menjadi Bidadari yang nyata. Aku sangat merindukanmu. LOVE YOU BIDADARI KECILKU..


Di lambungkannya balon itu tinggi-tinggi, namun sebelum balon itu di lepas Fiaz berkata “akak Lisky angan angis, anti akak Delia ceddih lu, ucap dyu ya kak ail matanya”. Risky pun berusaha mengusap air matanya demi Delia kekasihnya dan sejenak menatap ke langit tanda sangat merindukan kekasihnya, ia berharap sebuah keajaiban datang padanya, contohnya bahwa itu hanya mimpi atau kalau memang itu benar-benar nyata Delia di bangunkan lagi dari keistirahatannya, namun sepertinya itu tak akan mungkin terjadi, itu hanya cerita dongeng anak kecil yang sampai sekarang tak dapat di nyatakan kebenarannya. Mungkin sekarang yang ia bisa lakukan hanya diam, menangis, entah dengan siapa lagi ia harus mengisi hatinya yang kosong, namun bukan seperti kilat yang cepat. Memang sulit mengubah arah cinta, ia hanya bisa melepaskan Delia dengan ikhlas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar