Bidadari cantik itu pun kembali
bangkit dari kecerdasannya, murid pandai ini memang sangat idealis di mata
teman-temannya, kecuali Denis, Delia hanya terlihat istimewa di telinga Denis,
tak salah, pemuda ini memang tidak bisa melihat seperti normalnya dengan kedua
matanya, melainkan hanya bisa meraba dengan kedua tangannya dan mendengarkan
dengan kedua telinganya, alias tunanetra, namun dia mempunyai sahabat setia yang
bernama Risky. Setiap hari Denis berniat mengirimkan surat kepada Delia, karena
tidak bisa menulis normal ia bermaksud menyuruh Risky untuk menuliskan
surat-surat tersebut.
Pada suatu hari Delia pun berusaha
untuk mencari tau siapa pengirim surat itu yang membuat hatinya serasa tak
tenang, ia menemukan buku catatan yang tulisannya sama persis tulisan di surat
dengan nama sampul Risky fauzi, jelas bahwa pengirim surat itu adalah Risky. Di
setiap malam Delia selalu merenungkan apakah Risky menyukainya, namun ia
mencoba menerka, ia tak ingin Risky tau bahwa ia sudah mengira, namun seperti
biasa, Delia selalu di sambut dengan surat-surat yang tak jelas pengirimnya, ia
hanya tersenyum melihat dan membaca surat itu tak seperti biasa, hingga
akhirnya Delia membalas surat itu karena sudah jelas pengirimnya, ia yakin itu
dari Risky. Penasaran yang ingin di obati, dengan sengaja Delia mengajaknya bertemu
di Danau, hari itu Delia sendiri menunggu kedatangan Risky, namun bukan Risky
yang di inginkan melainkan Denis, ia masih bingung dengan semua ini, “Denis,
kamu kenapa ada di sini? Kamu sama siapa?” tanya Delia pada Denis, “I..iya ..
aku kesini sama Risky, tapi Risky ada di sana tu..” menunjuk ke arah yang
berbeda, “mana?apa kamu di sini di ajak Risky untuk menemui seseorang?”,
“justru aku yang mengajaknya menemui seseorang, pasti kamu bingung ya.? Sejujurnya
aku yang mengirim surat itu, namun aku tak bisa menulis normal, hingga aku
menyuruh Risky untuk menuliskannya, aku takut jika aku memakai bahasaku kau tak
akan mau menerima surat itu dan langsung membenciku” Ralat Denis dengan bahasa
haru sambil meneteskan air matanya, “kamu masih bisa sembuh, tapi aku tidak
akan pernah bisa” hanya kata-kata itu yang terjawab dari Delia lalu
meninggalkan Denis dengan nada sedikit kecewa.
Sudah 2 bulan setelah pertemuan itu
Delia tidak pernah memunculkan batang hidungnya di sekolah, karena sangat
khawatir Denis pun menyuruh Risky untuk pergi ke rumah Delia, ia bukan bertemu
dengan Delia namun dengan wanita paruh baya, sepertinya Ibunya, “maaf bu, Delia-nya
ada?”, “kamu siapa?”, pemuda itu menjawab “sa..saya Risky, pacarnya Delia,,,”
dengan nada gugup namun tak tau kenapa Risky melontarkan kata-kata itu.
“apa Delia tidak pernah
bercerita denganmu? Delia sakit, leoukimia, stadium lanjut, sudah lama, sejak
lahirnya tidak normal dan tidak bisa menangis. Namun dia ingin sekali hal ini
di rahasiakan, dia hanya tidak ingin semua orang merasakan apa yang dia rasa”.
Air mata keduanya pun menetes bersamaan.
Risky yang tak sengaja melihat foto di sebelah
meja yang di dengkunya pun tak kuasa lebih menahan eluhnya, foto adik lelakinya
yang berumur 4 tahun dengan Delia yang penuh dengan canda, tak menyangka bahwa
akan begini jadinya, bersamaan dengan air mata yang terus mengalir, adiknya
Delia, Fiaz itu pun menyodorkan sehelai kertas berwarna biru muda kepada
Risky “akak yang belnama akak lisky?”,
“he-emm...”, “dari mbak delia”. Di bukanya pelan kertas itu oleh Risky;
Mungkin
dulu kamu bisa melihat dan mendengar keceriaanku, mungkin dulu kamu bisa
melihat dan mendengar cantikku, mungkin dulu kamu bisa melihat dan mendengar
kesempurnaanku,,,namun sekarang bahkan sebelah matamu saja mungkin tak kuasa
untuk melihatku.
Semakin terasa lengkap air matanya.
Risky langsung pergi ke rumah sakit Delia di opname, namun di tempat ICU tak
seorangpun boleh masuk kecuali Dokter, hingga hanya bisa melihat di batasi
dengan kaca. Dengan perasaan kacau entah pikirannya ataukah bersama Delia yang
terbujur kaku tak berdaya.
Esoknya pun Risky sengaja membacakan
surat dari Delia di depan Denis, Denis yang tak bisa melihatpun yang serasa
Dunianya gelap dan hanya hitam yang di anggap terang kini dia menangis parau.
Sepulang sekolah ia berambisi mengoperasikan matanya dengan uang tabungannya
sejak pertama mengenal Delia untuk melihat Bidadari cantik Delia, 1 minggu
kemudian, jelas tampak di sampingnya ada pemuda tampan sekali, warna-warni
dunianya pun muncul tiba-tiba, seperti di lahirkan kembali di dunia yang nyata,
“Ya Alloh terimakasih Ya Alloh, apakah engkau sahabatku Risky?”, pemuda itu
hanya menganggukkan kepala dengan senyum tipis,
mengapa aku baru
bisa melihat sahabatku sekarang, dulu aku kira Risky tak kalah buruknya
denganku, buktinya dia mau berteman dengan orang buta sepertiku, namun apa aku
tak salah menyuruhnya mengirim surat kepada Delia, jika Delia jatuh hati
padanya itu sudah hal yang wajar, walau aku harus berusaha mengenal kembali
cinta yang lain. Selang
beberapa hari Denis ingin sekali melihat Bidadari cantiknya, hinga akhirnya
Risky mengajaknya ke sebuah Rumah di Kaki bukit dekat Danau, Rumah penuh mawar
merah yang di selimuti dengan kesunyian terlihat seorang gadis cantik yang tak
berambut sama sekali bersama lelaki kecil, tak lain adalah Delia dengan Fiaz,
adiknya.
“itu Delia, orang yang selama ini kamu
dambakan” kata Risky, “itu Delia orang yang aku impikan?, Tuhan, dulu saat dia
masih tegar dan hebat engkau tak mengizinkanku untuk melihatnya” menghempaskan
nafas sebentar dan melanjutkannya kembali “aku yakin dia bukan orang yang
lemah, dia cantik, aku tak salah memilihnya, tapi mengapa baru sekarang engkau
mengizinkanku untuk melihatnya?”, sesaat itu juga Denis berlutut serasa tak
berdaya berdiri dari tangisannya yang pecah di saat itu pula, mengingat
kata-kata terakhir Delia di saat pertemuannya di Danau, hingga melihat Delia
yang tak kuasa lagi bergerak, kadang normal, kadang lumpuh, darah yang
bercucuran dari hidungnya, dan raut wajah yang putih pucat, tak tega melihat
Delia yang selalu di Kemotrapi, namun dia masih bisa tersenyum.
Beberapa minggu kemudian hasil kemo
Delia di nyatakan bersih dari kanker, serasa Dunia Delia berawal kembali, pada
saat itu pula Denis sadar bahwa dia fikir Delia tidak pernah mencintainya, akhirnya
Denis merelakan Delia untuk Risky, keduanya pun menjalin kasih. Namun 2 tahun
kemudian, karena tak tau bahwa bersihnya kanker itu hanya sementara, kankernya
pun tumbuh lagi.
Risky berusaha selalu ada untuk Delia,
namun Delia berkata lain, entah kenapa Delia yang kiranya sangat mencintai
Risky kini ia berkata “aku akan menikah dengan orang lain yang aku pilih
Ris,,”, tangisan Risky pada saat itu pecah seketika, seperti hatinya tercekik
erat. Risky tak kuasa berkata apapun selain diam, Delia lalu pergi meninggalkan
Risky. setelah pertemuan kehancuran itu Delia bahkan sama sekali tak ada kabar,
padahal Risky berharap bahwa kata-kata Delia itu hanya lelucon, namun
sepertinya Risky harus benar-benar melepaskan harapan itu. 1 bulan kemudian,
Fiaz adik Delia ingin mengajak Risky ke Danau tempat biasanya, Fiaz memberikan
Risky surat untuk yang kedua kalinya;
Dear
: kerinduanku Risky
Maafkan
aku yang terpaksa bilang seperti itu karena aku tak ingin kamu mencintaiku, aku
ingin kamu membenciku biar kamu meninggalkanku. Hal ini sudah lama aku umpatkan
darimu, aku tak kuasa melihat tangisanmu untuk merelakan aku pergi dari
genggamanmu, aku sangat merasakan damai jika berada di sisihmu, namun aku harus
memilih 2 hal, melihatmu menangis untuk membenciku atau melihatmu menangis
untuk melihatku yang terakhir. Aku tak ingin mengotori matamu, menggoreskan air
mata di pipimu hanya untuk wanita lemah sepertiku. Aku hanya ingin menjadi
Lilin yang rela dirinya habis terbakar hanya untuk menerangi orang lain, hingga
sekarang keinginanku terwujud, aku sudah lelah Ris,, aku lelah,, aku ingin
semua ini berakhir, biarkan aku istirahat. Namun sekarang aku mohon maafkan
aku, aku tak bisa melakukan apa-apa lagi untuk menebus kesalahanku yang telah
menyayat hatimu. Terimakasih atas ketulusanmu.
Namun sayangnya semua itu percuma,
tangisan itu percuma karena sebelum surat itu dikasih 3 hari yang lalu Delia
menghembuskan nafas terakhirnya. Itu artinya
kemaren itu terakhir aku bertemu dengannya? Kenapa harus dengan kesan air mata?
Seharusnya aku tak menangis di saat terakhirnya, seharusnya aku tersenyum saat
dia bilang ingin menikah, agar itu menjadi senyum terakhirnya. Fikir
Risky
Fiaz mengambil 2 balon, 1 di sodorkan
untuk Risky, 1 di genggamnya, di tali masing-masing balon itu di tuliskan;
Sedang apa kak
Delia di sana? Kakak baik-baik saja bukan? Maafin fiaz kak.. fiaz ndak bisa
melindungi kakak dari nyamuk-nyamuk nakal lagi, sekarang kakak tidur sendiri
ya? Sebenarnya kemarin fiaz ingin ikut kakak, tapi mama melarang, kak,, kalau
ada yang nakal bilangin ke fiaz ya? Nanti fiaz jewer, Fiaz merindukan kakak
bersama kak Risky. Kakak kapan pulang?
Sepertinya Fiaz belum mengerti, begitu
sangat eratnya hubungan antara Delia dan Fiaz, “akak lisky balonnya akak mau
tulis apa buat akak Delia?”. Risky kiranya hanya tersenyum mencoba
menyembunyikan semuanya dari Fiaz. Risky mencoba menyusun kata-kata.
Jika kamu berada
di sini ...pasti kamu akan merasakan syurga bersama aku dan Fiaz, aku juga minta
maaf karena aku belum terlalu memahami kamu, aku harap kamu bisa tenang dan
lebih bahagia di sana, tiada doa yang aku lontarkan selain engkau bisa bahagia
abadi di balik awan sana, Bidadari yang aku kenal kini menjadi Bidadari yang
nyata. Aku sangat merindukanmu. LOVE YOU BIDADARI KECILKU..


Tidak ada komentar:
Posting Komentar